Saturday, June 27, 2009

K E L A P A R A N

Setelah jalan keliling
lupa makan, tanpa minum
sepanjang hari ini

Aku melahap
nasi, ikan bakar, sop tomat, irisan timun
berlomba keluar dari mulutku
setelah numpang sebentar di ususku

dibelakang warung ini
beberapa monyet gila
tergeletak dalam tuak
Menyulut mual dan muakku

kumuntahkan semua
nasi, ikan bakar, sop tomat, irisan timun semuanya
akhirnya kelaparan lagi

Masjid Telkom, 27 Juni 2009

Friday, June 26, 2009

Menghantar Mentari

Diatas buih malu-malu
Menghempas dan mengguling
perlahan........
bersama perangai sang bayu
nan sayu......

Menghantar mentari
dengan sepotong kue
di penghujung puasa
dengan seuntai do'a
di ujung masa
dengan seteguk air mata
di ufuk hayat


Losari, 26 Juni 2009

Tuesday, May 22, 2007

MUTIARA OMBAK

Dalam gelegar lautan ruhku
kutatap wajahmu
mutiara ombak gembira
meliuk berirama
mainkan arus dan gelombang
melayangkan deburan


Kusimak ceracaumu mutiara ombak
mengalir bersama teduhnya lautan
mengalun dengan semilir bayu
gemericik syahdu


Gelombang kehidupan
tidak kau lawan
tapi ajak berdamai


Taufan hayat
tidak kau tantang
tapi mainkan diplomasi


Diatas deburan ombak
hembusan dingin angin laut
dengan senyum terkulum
tsunami dan elnino kau bujuk


Deras kotoran arus
tidak kau muak
melainkan mengusap
membasuh gelombangmu
bisikkan tausiah
hingga bersih hati
jiwa-ragaku


Kadang kau sedih
mengurai kepedihan gelombang
lantaran sampah, kotoran
tidak tertampung samudramu;
tersayat qalbumu,
terlukai jiwamu
tertunduk kepalamu
tergoncang jazadmu
menahan murka
tapi tausiahmu kuwasiatkan
kau ukir kembali senyum
diwajahmu


Bila kau tiada
laut menangis dan bersedih
camar mengirimkan do’a keselamatan
lumba-lumba bermunajat senantiasa
tsunami memukul dan menghempas
elnino meradang dan menjungkal
demi keselamatanmu


Bila kau ada
badai mengulum senyum
terukir dipentas wajah
berkat tausiahmu


Demi ketentraman
ombakmu
lautmu
arusmu
dengan tausiahmu
agar bersih hati
jiwa-ragaku


Kutatap mutiara ombak
dalam gelegar lautan ruhku


Kalibata, 14 Mei 2007

Monday, May 14, 2007

ANTAR -JEMPUT

Manis senyum terukir dibibir
Menebar pesona jadinya
Guratan wajah mengendur tegang
Memperjelas indahnya jubah maling

Gelombang rasa mendobrak dada
Tanda tidak mampu mengurai dendam
Ketika tangan memeras airmata
Luapan sayang katanya

Ditadah selalu dengan hati
Terjunjung diatas kepala
Oase jalan ditelantarkan
Isaknya mengantar Mikail
Indahnya menyambut Izrail

Kalibata, 12 Mei 2007

Tuesday, May 8, 2007

BAIKOLE

Panjangnya rentangan sayap
Ketajaman mata laksana api
Cakarnya setajam belati
Paruhnya laksana pedang
Bagi Elang, simbol keperkasaan dan penaklukan


Elang adalah sepupu Rajawali
Cakarnya terasah dengan batu cadas
Tidakkan tidur kecuali di lereng jurang
Selalu bergelut badai dan topan
Karena angkasa adalah kuasanya


Memang angkasa adalah kuasanya
Tapi dihadapan Baikole
Burung, lebih kecil dari merpati
Elang sang penakluk, jadi pengecut
Harus berlutut berpuluh-puluh kali
Sebagai tanda takluk


Baikole, bertubuh kerdil
Bernyali sangat tidak kecil
Punya kehormatan dan harga diri
Selalu memakai mahkota kemuliaan
Senantiasa memberikan perlindungan


Bagi anak-anak ayam
Terancam cengkraman Elang dan Gagak
Baikole adalah Pahlawan


Tidak pernah ada dalam sejarah
Baikole mengganggu kehormatan ayam
Melainkan selalu melindungi
Sepenuh jiwa sayang


Kalibata, 05 Mei 2007

TAMAN PENGAJIAN

Adalah tiga orang ibu
Memakai baju hijau
Berumur paruh baya
Mata sudah mulai rabun

Dipinggir rel kereta api
Diatas tumpukan salak jualan
Dengan buku Iqra di tangan
Laksana anak kecil

Mengeja mulai dari alif
Terbata-bata
Dari pagi sampai sore
Malam sampai pagi
Tanpa rasa malu dan sungkan

Kereta hilir mudik di depannya
Para penumpang datang
Menghilang silih berganti
Tanpa sungkan dan malu


Di taman kesungguhan
Mereka terus mengeja mulai dari alif
Tidak pernah tamat
Seumur duduk mereka


Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, 04 Mei 2007


Tuesday, May 1, 2007

TITIPAN KUPU-KUPU










Keindahan sayap
Bagi kupu-kupu adalah kehormatan
Karena disitulah
Terukir keindahan bunga
Terpatri kecantikan bidadari surgawi;
Merona senyum rembulan
Menjadi kelembutan purnama


Sejak terbuka mata;
Berpindah tempat;
Mengarungi lautan;
Melintasi pegunungan;
Ia tetap kepakkan keindahannya


Kemarin pagi
Dengan gembira hati dipaksa
Ia ukir kembali keindahan sayapnya
Duduk bertengger diatas luka jantungnya
Darah mengalir dari hatinya


Senyum duka ia bawa
Terbang dengan aksara patah-patah
Melintasi lorong asa
Bergerak menuju keabadian


Tadi malam, ada titipan
Dibawa angin timur
Ia membisikkan kepadaku

Ini ada titipan kupu-kupu sahabatmu”


Bukan Surat;
Bukan permata;
Bukan saputangan;
Bukan kue tart
Tapi sayapnya sendiri
Keindahan kehormatannya;
Ia titipkan;
untukmu;
Sahabat hatiku;


Pejaten Timur, 01 Mei 2007