Tuesday, May 8, 2007

TAMAN PENGAJIAN

Adalah tiga orang ibu
Memakai baju hijau
Berumur paruh baya
Mata sudah mulai rabun

Dipinggir rel kereta api
Diatas tumpukan salak jualan
Dengan buku Iqra di tangan
Laksana anak kecil

Mengeja mulai dari alif
Terbata-bata
Dari pagi sampai sore
Malam sampai pagi
Tanpa rasa malu dan sungkan

Kereta hilir mudik di depannya
Para penumpang datang
Menghilang silih berganti
Tanpa sungkan dan malu


Di taman kesungguhan
Mereka terus mengeja mulai dari alif
Tidak pernah tamat
Seumur duduk mereka


Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, 04 Mei 2007


Tuesday, May 1, 2007

TITIPAN KUPU-KUPU










Keindahan sayap
Bagi kupu-kupu adalah kehormatan
Karena disitulah
Terukir keindahan bunga
Terpatri kecantikan bidadari surgawi;
Merona senyum rembulan
Menjadi kelembutan purnama


Sejak terbuka mata;
Berpindah tempat;
Mengarungi lautan;
Melintasi pegunungan;
Ia tetap kepakkan keindahannya


Kemarin pagi
Dengan gembira hati dipaksa
Ia ukir kembali keindahan sayapnya
Duduk bertengger diatas luka jantungnya
Darah mengalir dari hatinya


Senyum duka ia bawa
Terbang dengan aksara patah-patah
Melintasi lorong asa
Bergerak menuju keabadian


Tadi malam, ada titipan
Dibawa angin timur
Ia membisikkan kepadaku

Ini ada titipan kupu-kupu sahabatmu”


Bukan Surat;
Bukan permata;
Bukan saputangan;
Bukan kue tart
Tapi sayapnya sendiri
Keindahan kehormatannya;
Ia titipkan;
untukmu;
Sahabat hatiku;


Pejaten Timur, 01 Mei 2007

Monday, April 23, 2007

KEMATIAN KUPU-KUPU






Angin kencang meniupkan dendam
Halilintar maut sedang berdendang
Menghempas dendam malam-malam
Sihijau hitam tersungkur dalam kelam

Angin kencang menghembuskan dendam
Angin topan mendendam malam
Mematahkan sayap kupu-kupu malang
Meneteslah airmatanya di tengah jalan

Angin kencang meniupkan dendam
Badai mengamuk dengan garang
Kupu-kupu hijau hitam patah arang
Badannya remuk redam

Kupu-kupu hijau hitam
Bergelayut dengan kematian
Napasnya tinggal senin kamis
Disaat dendang alam, dendam malam

Hatiku tertusuk paku berkarat
Dalam sayang telapak tanganku
Ia bergelayut dengan kematian


Pejaten Timur, 21 April 2007

WARISAN DENDAM

Karena hati membatu
Kau pahat dendam
Dengan sepenuh semangat

Karena hati membatu
Puluhan tahun silam
Dendam kau ukir

Masih terbaca
Hingga anak cucumu


Pejaten Timur, 20 April 2007

Friday, April 20, 2007

MENDENGKUR

kalau tidur serumah
Ada weker tidak usah

karena gelegar dengkurmu
Sudah cukup menyentak mimpiku


Pejaten Timur, 19 April 2007

HITAM PEKAT LEBAM

Diatas tahta kematian
Saat liang lahad digali
Teman-temanku tatap

Diatas tahta kematian
Saat liang lahad dibuka
Dadaku tatap
Hitam pekat lebam

Diatas tahta kematian
Saat liang lahad ditutup
Hitam pekat lebam
Penyebab kematianku

Pejaten Timur, 18 April 2007

LUPA

Nama-Mu selalu kudzikirkan
Sepanjang waktu kematian
Merenggut sahabatku

Tapi nama-Mu lupa kuwiridkan
Sepanjang waktu kematian
Merenggut diriku sendiri

Pejaten Timur, 17 April 2007